Selasa, 27 November 2012

AYAH



Cintanya sebagai seorang ayah mampu menahan beban hidup untuk kebahagiaan anaknya. Sebagai ayahditengah kesibukkannya mencari nafkah tidak membuatnya melupakan nilai-nilai keimanan yang diyakininya. Godaan sebagai pengawas proyek selalu mampu ditolaknya karena bertentangan dengan nurani. Sekalipun dirinya sholatnya masing bolong-bolong namun di dalam mencari nafkah selalu mengutamakan rizki didapat dengan benar dan halal. Bukan rizki yang didapatdari yang kotor. Dia sangat menyakini bahwa rizki yang yang tidak benar mempengaruhi kehidupan keluarganya. Itulah sebabnya sebagai wujud cintadan kasih sayang seorang ayah dirinya selalu berhati-hati di dalam mencari nafkah yang halal untuk anak dan istrinya, juga mendidik anak istri agar mendirikan sholat lima waktu dan kepekaan sosial terhadap lingkungan.
Tiba-tiba anaknya yang teramat dicintainya sakit. Perutnya mengembung. Anaknya menangis terus menerus. Tanpa berpikir panjang dirinya segera membawa anaknya ke rumah sakit. Sebagai seorang ayah tak kuasa dirinya menahan atmosphere mata. Dokter sempat mengatakan kesempatan hidup anaknya tinggal 60% saja. Tim dokter sudah dipersiapkan untuk operasi anaknya. ‘Siapa yang mengatur hidup mati kita? apakah dokter itu yang mengatur? kok berani-beraninya mereka menyebutkan tinggal 60% hidup anak saya,’ begitu tanyanya. Berkali-kali beristighfar memohon ampun kepada Allah namun atmosphere matanya tak dapat disembunyikan.
Bergegas beliau bersama istrinya ke Rumah Amalia untuk bershodaqoh, dengan berharap keridhaan Allah bisa menyembuhkan anaknya. Keesokan harinya operasi itu dilaksanakan. lampu operasi sudah menyala. Sementara seorang anak kecil tergeletak tak berdaya. Dia nampak sangat gelisah. Hilir mudik didepan kamar operasi. Perkataan istrinya sudah tidak digubrisnya lagi. Dirinya tak henti-hentinya berdoa, Bermacam-macam doa sudah dipanjatkan kepada Allah, tak tahu lagi harus apa yang harus dilakukan. Tak lamakemudian seorang dokter keluar dari kamar operasi muncul didepan pintu sambil tersenyum kepadanya. ‘Bapak, berdasarkan hasil pemeriksaan saya, anak bapak tidak perlu dioperasi,’ Dia bersyukur takjub. Desah nafasnya terasa ringan. Air matanya bercucuran. Syukur alhamdulillah berkali-kali diucapkannya. Pada lantai rumah sakit dibersujud. Sujud syukur sambil menangis tak tertahankan. Alangkah nikmatnya rasanya menerima anugerah Allah justru disaat harapan sudah mulai menipis.begitulah Allah menguji hamba-hambaNya yang beriman. Subhanallah..
“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila tertimpa musibah mengucapkan, ‘Kami berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya”(QS. al-Baqarah: 155-156).
keyword: puisi ayah untuk anak, puisi ayah untuk anaknya, puisi seorangayah, puisi rindu ayah, puisi doa kepada allah, puisi rindu buat anak, doa ayahuntuk anaknya, puisi ayah untuk putrinya, PUISI untuk ayah yang sakit, cintaayah pada anaknya, puisi cinta untuk anak, puisi rindu ayah pada anaknya, puisi dari ayah untuk anaknya, doa seorang ayah untuk putrinya, puisi anak untuk ayah, puisi ayah untuk anak perempuannya, puisi dari ayah untuk anak, Puisi ayah buat anak, doa untuk papah yang sakit, doa untuk bapak yang sakit, puisi rindu orang tua, rindu ayah pada anaknya, kerinduan ayah kepada anaknya, Puisi kecintaan ayah pada anaknya, Doa ayah untuk anak, KERINDUAN SEORANG AYAH KEPADA ANAKNYA, puisi kerinduan pada orang tua, puisi ayah sakit, arti seorang ayah di mata Allah, puisi doa seorang anak untuk orang tuanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar